Gambarbatik beserta nama dan asal daerahnya ~ 1182016 Selain kesepuluh macam-macam batik Indonesia tersebut masih banyak lagi kerajinan batik dari berbagai daerah di Indonesia seperti Batik Malang Batik Aceh Batik Jombang Batik Pekalongan Batik Tulungagung Batik Kediri Batik Kudus Batik Jepara Batik Brebes dan batik-batik. Asal Daerah 1ORNAMEN RELIEF CANDI RIMBI SEBAGAI INSPIRASI PENGEMBANGAN MOTIF BATIK KABUPATEN JOMBANG Wiwit Dyahwati Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Author: Widyawati Santoso. 23 downloads 142 Views 460KB BatikJombang merupakan batik yang bermotif kawung yaitu gambar yang menyerupai buah kolang-kaling dengan warna merah bata dan hijau daun. Batik Banten merupakan batik yang memilki ciri yang khas dan unik karena motifnya bercerita sejarah dan juga berasal dari benda-benda peninggalan seperti gerabah dan nama-nama penembahan kerajaan Banten 8Contoh Gambar Batik Yang Mudah Untuk Tugas Sekolah Anak Pinhome from batik jombang bisa anda jadikan contoh untuk menggambar pola batik yang mudah. Gambar motif batik yang mudah digambar dan bagus gambar batik lukisan bunga matahari. Contoh gambar batik nusantara yang mudah ditiru · 1. Merupakantoko batik yang berlokasi di Kabupaten Jombang. Toko batik Alamat lokasi: Ngudirejo, Kec. Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur 61471, Indonesia. Nomor telepon: 0856-0700-0895, kode pos: 61471. Toko batik ini menawarkan berbagai macam jenis kain dan motif batik khas Indonesia dan berbagai daerah di Provinsi Jawa Timur TRIBUNPONTIANAKCO.ID - Inilah soal dan kunci jawaban tema 3 kelas 5 SD berjudul Makanan Sehat subtema 3 pembelajaran 6. Berikut dibahas soal dan jawaban subtema 3 pembelajaran 6 halaman . MOTIF BATIK DAERAH JOMBANG Batik Jombang Batik yang satu ini masih terbilang baru, di mana baru dikembangkan pada tahun 2000. Pada awal perkembangannya, motif batik Jombang banyak yang menggunakan motif tawang dan kaning dengan warna dasar yang sangat khas kota Jombang, yakni merah dan hijau jombang, ijo abang alias hijau dan merah. Peggunaan batik Jombang sendiri memang masih tidak terlalu familier di pasaran, jadi tidak heran kalau tak banyak yang mengetahuinya. Batik Tuban Sebagai salah satu kota di pesisir utara pulau Jawa, Tuban tidak ketinggalan dalam mengembangkan desain batiknya sendiri. Dalam perkembangannya, batik Tuban memperoleh pengaruh yang sangat besar dari kebudayaan Cina. Hal itu tergambar dalam motif lok chan yang sangat familier di kota ini. Motif lain yang terkenal di kota Tuban ini antara lain adalah motif macanan dan guntingan. Dalam penggunaan warna, dulunya Batik Tuban banyak menggunakan warna seperti biru indigo, merah mengkudu, hitam serta putih kekuningan. Seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan warna pun terus bertambah di mana terdapat pula batik Tuban yang menggunakan warna putihan latar putih dengan hiasan biru tua dan hitam, warna pipitan warna putih dengan hiasan warna merah dan biru tua serta yang terakhir adalah warna bangrod latar putih dengan motif merah. Batik Tulungagung Tak seperti batik Jombang, Batik Tulungagung merupakan jenis batik yang sudah berkembang sejak zaman dulu. Diceritakan bahwa perkembangan budaya batik terjadi sejak Tulungagung yang dulunya bernama Bonorowo takluk di tangan kerajaan Majapahit. Beberapa tempat di Tulungagung pun terkenal sebagai sentra batik seperti Desa Sembung dan Desa Majan. Saat ini, terdapat sekitar 86 motif batik Tulungagung yang sudah dikembangkan. Dari 86 motif tersebut, terdapat beberapa motif yang terkenal, di antaranya adalah otif batik “buket ceprik gringsingâ€,â€buket ceprik pacit ungkerâ€, dan “lereng buketâ€. Batik Kediri Batik mungkin bukan menjadi ikon kota Kediri. Orang lebih banyak mengenal kota Kediri sebagai kota tahu. Memang sih, berbagai penganan yang berbahan dasar dari tahu bisa dijumpai di kota ini. Namun jangan salah, batik Kediri juga memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan batik dari kota lain. Salah satu batik yang menjadi unggulan kota Kediri adalah motif batik bolleches. Motif ini merupakan motif batik yang menggunakan bulatan dan titik-titik. Dikatakan bahwa motif ini sesuai dengan kepribadian warga Kediri yang lembut dan ramah. Selain itu, ada pula motif batik Gumul yang merupakan replika dari monumen simpang lima Gumul. Motif yang satu ini tentu saja tidak akan ditemui di kota lain, karena monumen simpang lima Gumul hanya ada di kota kediri, . Jakarta Sebagai warisan budaya, batik menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Di Indonesia, ada ribuan motif batik yang berasal dari berbagai daerah. Jawa Timur merupakan salah satu wilayah dengan jenis batik yang beragam dan khas. 17 Jenis Batik Indonesia dan Penjelasannya, Tak Cuma dari Jawa Motif Singo Mengkok, Batik Khas Lamongan yang Melegenda 10 Cara Membuat Batik Tulis, Mudah Dipraktikkan untuk Pemula Jenis batik khas Jawa Timur memiliki perbedaan karakteristik dari batik Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dibandingkan dengan batik Jawa Tengah, motif batik Jawa Timur lebih bebas dan tidak terpaku dengan pakem batik Jawa ala Keraton. Jenis batik khas Jawa Timur memiliki keragaman motif yang dipengaruhi oleh budaya asing seperti Tionghoa, Jepang, dan India. Jenis batik khas Jawa Timur lebih kaya akan nuansa alam seperti bunga, laut, bambu, hingga binatang. Sejumlah daerah di Jawa Timur dikenal dengan hasil batiknya. Daerah ini memiliki motif batik yang khas dan mencirikan identitas daerah tersebut. Berikut jenis-jenis batik yang populer di Jawa Timur, dirangkum dari berbagai sumber, Senin6/7/2020.Galeri Batik Banyuwangi2019 Lamongan Batik Lamongan memiliki ciri khas motif yang rumit dan kecil. Batik Lamongan, khususnya batik Tradisional termasuk jenis batik tulis yang dibuat dengan detail cukup rumit. Batik Lamongan memiliki corak kekayaan alam seperti bunga, hewan, buah, dan daun. Batik Tuban Batik Tuban memiliki ciri khas corak yang dipengaruhi oleh budaya Tionghoa. Jenis batik yang populer di daerah ini adalah motif lok chan. Ada juga motif motif macanan dan guntingan. Batik Tuban cenderung sering menggunakan warna biru tua, merah, dan kuning. Batik Tuban juga merupakan salah satu jenis batik yang sangat khas di Jawa Timur. Ini karena pembuatan batik dimulai dari pertama kapas dipital menjadi kain hingga menghasilkan batik bermotif dan berwarna indah. Batik Banyuwangi Batik Banyuwangi memiliki motif yang dipengaruhi oleh gambaran kekayaan alam. Motif batik Banyuwangi di antaranya adalah motif Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Alas Kobong, Paras Gempal, Kopi Pecah, Gedegan, dan masih banyak batik khas Jawa TimurSeorang pekerja menjemur batik di pabrik "batik" kain tradisional Indonesia di Sidoarjo, Jawa Timur 12/11/2019. UNESCO menetapkan batik sebagai karya agung lisan dan warisan budaya takbenda kemanusiaan. AFP Photo/Juni KriswantoBatik Surabaya Batik Surabaya yang paling terkenal adalah batik dengan motif sura hiu dan baya buaya. Ada juga motif alam lainnya seperti semanggi dan ayam jago. Batik Sidoarjo Batik Sidoarjo memiliki motif kekayaan alam khas Sidoarjo dengan warna cerah seperti merah, hijau, dan kuning. Motif yang banyak ditemui di daerah ini di antaranya adalah motif ijo-ijoan, abangan, beras kutah, motif krubutan motif burung Merak, dan lain-lain. Batik Madura Batik Madura termasuk batik pesisir dengan warna cerah dan alami. Sebagian motif batik Madura yang mengangkat aneka flora dan fauna yang ada dalam batik khas Jawa TimurSelembar batik tulis dengan corak motif Topeng Malangan perajin batik Blimbing di Kota Malang ArifinBatik Mojokerto Mojokerto dulunya merupakan pusat pemerintahan Majapahit, motif batik Mojokerto memiliki corak khas kerajaan seperti batik di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Motif paling terkenal adalah Batik Kalangbret yang memiliki warna dasar putih dengan corak berwarna coklat muda dan biru tua. Batik Malang Batik Malangan memiliki ciri khas motif yang mengambil ikon dari kota Malang. Ini seperti tugu Malang, rumbai singa, mahkota, bunga teratai, arca, tugu kota, hingga topeng malangan. Batik Tulungagung Batik dari Tulungagung merupakan salah satu jenis batik tertua di Jawa Timur. Motif batik Tulungagung yang paling terkenal adalah buket ceprik gringsing, buket ceprik pacit ungker dan lerang batik khas Jawa TimurDian Fajar Riono, perajin batik dengan menggunakan pewarna alami satu-satunya di Ponorogo. KurniawanBatik Pacitan Batik Pacitan cenderung memiliki corak klasik Jawa. Motif yang kerap ditemui di Pacitan di antaranya adalah Sidomulyo, sekar jagad, semen romo dan kembang-kembang. Batik Ponorogo Corak batik Ponorogo tak jauh dari ciri khas daerah ini yaitu Reog. Motif batik Ponorogo yang terkenal di antaranya adalah merak tarung, merak romantis, sekar jagad dan motif reog. Batik Kediri Batik Kediri terkenal dengan motif bulatan dan titik-titiknya yang khas. Motif bulatan ini menggambarkan warga Kediri yang lembut dan batik khas Jawa TimurMotif batik Sidomukti Magetan. Image Magetan Batik Magetan terkenal dengan coraknya yang dinamai Pring Sedapur. Motif batik ini didominasi oleh gambar-gambar tanaman bambu yang mengandung arti hidup rukun dan tentram. Batik Jombang Batik Jombang memiliki warna khas yaitu merah dan hijau. Motif batik Jombang banyak menggunakan tawang dan kaning. Batik Bojonegoro Batik Bojonegoro atau Jonegoroan memiliki corak yang menunjukkan ciri khas kabupaten tersebut. Motif yang banyak ditemukan di batik Bojonegoro di antaranya adalah motif padi, motif gatra, motif daun jati, motif khayangan api, motif jagung, motif mliwis putih, motif tembakau, motif motif sapi, dan motif wayang thengul.* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan. JOMBANG – Bertepatan dengan peringatan Hari Batik 2 Oktober, ada perajin batik di Jombang yang getol mengenalkan potensi budaya khas Jombang. Nunuk Rachmawati, 55, perajin batik asal Dusun Jambu Desa Jabon Kecamatan Jombang mengekspresikan potensi budaya Jombang lewat motif batik tulis. Nunuk belajar membatik dari sang ibu, yang juga perajin batik. Sejak tujuh tahun lalu, ia telah menciptakan empat motif yang mengusung tema budaya khas Jombang. ’’Ada empat motif yang sudah kami patenkan. Sekarang jalan motif kelima,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin 2/10. Motif pertama pesona Jombang. Di motif ini, ia mengekspresikan beberapa potensi unggulan Jombang. Seperti durian bido khas Wonosalam, manik-manik Gudo, cengkeh, kopi dan tembakau. Motif kedua, batik besutan yang mengenalkan budaya besutan sebagai cikal bakal kesenian luduk. Motif ketiga, Rimbi Puro Mojo yang mengenalkan pesona Candi Arimbi di Desa Pulosari, Bareng, sebagai pintu gerbang Majapahit selatan. Keempat Nala Patma Dipa yang juga menggabungkan beberapa unsur budaya khas Jombang. ’’Yang terakhir, kami membuat motif Tunggul Anggraini Bayangkari. Gabungan sejarah Majapahit dengan motif khas Garuda Wishu di Sumberbeji. Serta ada benteng Polri sebagai garda terdepan negara,’’ paparnya. Nunuk membuatnya dalam batik cap dan tulis. Batik tulis disebutnya lebih mahal karena harus melalui proses panjang mulai membuat pola, mencating hingga proses pewarnaan secara berulang kali. ’’Batik tulis kami lebih menonjolkan seni. Butuh keuletan dan kesabaran dari pembatik,’’ jelasnya. Untuk pemasaran, Nunuk tak hanya mengandalkan relasi atau kenalan. Dibantu anak-anaknya yang juga pembatik, Nunuk mulai merintis pemasaran ke luar negeri, khususnya Thaliand. ’’Pemasaran kami selama ini fokus di kota-kota se-Indonesia. Kami juga mulai merambah ke manca negara,’’ tandasnya. Harga batik buatan Nunuk bervariasi. Batik cap ukuran 2 X 1,15 meter Rp 70 ribu – Rp 100 ribu. Batik tulis dijual mulai Rp 300 ribu. ’’Yang paling mahal Rp 7 juta, batik tulis sutra,’’ ungkapnya. Reporter Anggi Fridianto JOMBANG – Bertepatan dengan peringatan Hari Batik 2 Oktober, ada perajin batik di Jombang yang getol mengenalkan potensi budaya khas Jombang. Nunuk Rachmawati, 55, perajin batik asal Dusun Jambu Desa Jabon Kecamatan Jombang mengekspresikan potensi budaya Jombang lewat motif batik tulis. Nunuk belajar membatik dari sang ibu, yang juga perajin batik. Sejak tujuh tahun lalu, ia telah menciptakan empat motif yang mengusung tema budaya khas Jombang. ’’Ada empat motif yang sudah kami patenkan. Sekarang jalan motif kelima,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin 2/10. Motif pertama pesona Jombang. Di motif ini, ia mengekspresikan beberapa potensi unggulan Jombang. Seperti durian bido khas Wonosalam, manik-manik Gudo, cengkeh, kopi dan tembakau. Motif kedua, batik besutan yang mengenalkan budaya besutan sebagai cikal bakal kesenian luduk. Motif ketiga, Rimbi Puro Mojo yang mengenalkan pesona Candi Arimbi di Desa Pulosari, Bareng, sebagai pintu gerbang Majapahit selatan. Keempat Nala Patma Dipa yang juga menggabungkan beberapa unsur budaya khas Jombang. ’’Yang terakhir, kami membuat motif Tunggul Anggraini Bayangkari. Gabungan sejarah Majapahit dengan motif khas Garuda Wishu di Sumberbeji. Serta ada benteng Polri sebagai garda terdepan negara,’’ paparnya. Nunuk membuatnya dalam batik cap dan tulis. Batik tulis disebutnya lebih mahal karena harus melalui proses panjang mulai membuat pola, mencating hingga proses pewarnaan secara berulang kali. ’’Batik tulis kami lebih menonjolkan seni. Butuh keuletan dan kesabaran dari pembatik,’’ jelasnya. Untuk pemasaran, Nunuk tak hanya mengandalkan relasi atau kenalan. Dibantu anak-anaknya yang juga pembatik, Nunuk mulai merintis pemasaran ke luar negeri, khususnya Thaliand. ’’Pemasaran kami selama ini fokus di kota-kota se-Indonesia. Kami juga mulai merambah ke manca negara,’’ tandasnya. Harga batik buatan Nunuk bervariasi. Batik cap ukuran 2 X 1,15 meter Rp 70 ribu – Rp 100 ribu. Batik tulis dijual mulai Rp 300 ribu. ’’Yang paling mahal Rp 7 juta, batik tulis sutra,’’ ungkapnya. Reporter Anggi Fridianto Artikel Terkait KOPI, Surabaya – Jawa Timur terkenal mempunyai keunikan yang sangat menarik bagi masyarakatnya, termasuk batik. Ada berbagai macam jenis motif batik Jawa Timur di setiap daerah yang memiliki ciri khasnya masing-masing. Bahkan motif tersebut telah banyak dipengaruhi oleh mulai masuknya budaya asing. Jenis dan Karakteristik Motif Batik Asal Jawa Timur Batik di Provinsi Jawa Timur, umumnya sudah banyak tersebar ke berbagai wilayah lainnya. Salah satu di antara batik tersebut mempunyai karakteristik / ciri khas yang berbeda satu dengan yang lain. Berikut ini ada beberapa motif batik dengan kepopulerannya di kalangan masyarakat, antara lain Jenis Motif Batik Dari Tuban Salah satu motif batik yang cukup populer di Jawa Timur, yaitu motif batik yang berasal dari Tuban. Kota tersebut telah banyak masyarakat kenal sebagai tempat pengembangan desain / motif batik dengan tampilan cukup unik dan menarik. Uniknya, kemunculan batik ini karena pengaruh dari China. Mengapa? Itu karena pada bagian motif batiknya, ada yang namanya motif Iok Chan. Ada pula motif dengan bentuk semacam guntingan atau bahkan macanan. Pada dasarnya, warna yang terdapat pada kain batik ini antara lain merah mengkudu, biru, kuning, hitam. Namun, sekarang lebih beragam. Jenis Motif Khas Banyuwangi Banyak yang masih belum mengetahui, jika motif dari kain batik khas Banyuwangi merupakan salah satu motif yang cukup populer dan telah menyebar di seluruh kawasan di Indonesia. Pada umumnya, motif ini masih terbagi menjadi beberapa desain lagi. Sampai saat ini telah terhitung sebanyak 21. Dari banyaknya jenis motif yang ada di bumi Blambangan ini, motif yang cukup terkenal antara lain seperti gajah oling, alas kobong, kangkung setingkes, paras gempat, kopi pecah dan masih banyak lagi lainnya. Umumnya, keseluruhan dari jenis motif batik Banyuwangi juga terpengaruh kondisi alam. Motif Batik Unik Khas Madura Selain Banyuwangi dan juga Tuban, ada motif batik Jawa Timur yang tidak boleh Anda lewatkan juga. Motif batik ini berasal dari Madura, tidak hanya terkenal dengan ladang garam beserta karapan sapinya saja. Masyarakat di sana memiliki tangan yang kreatif dalam menekuni kerajinan batik ini. Motif batiknya pun tidak kalah menarik dengan daerah lainnya. Pada dasarnya, motif dari Madura ini menggunakan pewarnaan yang cukup mencolok dan terbilang terang. Seperti merah, kuning serta hijau. Motif paling terkenal di sana adalah pucuk tombak, rajut dan juga motif belahan ketupat. Motif Batik Asal Ponorogo Jenis motif batik Jawa Timur lain yang tidak kalah menarik adalah motif batik asal Ponorogo. Tidak hanya terkenal dengan reog saja, Ponorogo ini juga memiliki seni kerajinan batik yang sangat terkenal dan melegenda. Menurut informasi lengkap, ada sekitar 25 motif yang telah tersebar luas. Ragam motif batik asal Ponorogo yang cukup populer sampai saat ini, antara lain merak romantis, merak tarung, motif reog dan juga sekar jagad. Dari berbagai macam jenis motif yang sudah tersebar luas, motif batiknya sendiri masih berkaitan erat dengan pengaplikasian karakter burung merah / reog. Motif Batik Asal Mojokerto Jenis motif batik populer di Jawa Timur selanjutnya, yaitu motif yang berasal dari Mojokerto. Pada umumnya, telah tercatat bahwa perkembangan batik yang ada di sana merupakan awal dari masa kejayaan dari kerajaan Majapahit. Hal tersebut menyebabkan nama corak batiknya cukup aneh. Nama motif batik tersebut antara lain seperti motif matahari, gedeg rubuh, mrico bolong, gringsing, surya Majapahit, dan juga pring sedapur. Penggunaan warna yang ada di kain baiknya sendiri biasanya cenderung menggunakan putih bersamaan dengan bambu yang berwarna biru, daun hitam. Jenis Motif Asli Bojonegoro Tidak mau kalah dengan motif di daerah Jawa Timur lainnya, Bojonegoro pun juga memiliki motif batik yang cukup populer dan terkenal unik dari yang lain. Selain terkenal dengan kekayaan alamnya yang sangat luar biasa, misalnya minyak bumi. Bojonegoro sendiri mempunyai motif Jonegoroan. Pengrajin batik yang sempat populer, yaitu Ibu Mahfudhoh Suyoto. Beliau mendapatkan ide untuk dapat membuat motif kain batiknya sendiri, karena melihat Bojonegoro kaya akan hasil minyak buminya. Akhirnya tercipta motif batik, seperti gastro rinonce, jagung miji emas, parang dahono munggal dan lain-lain. Motif Batik Asal Sidoarjo Sidoarjo pun juga turut hadir dalam menyumbang kekayaan desain / motif batik asal Jawa Timur. Bahkan motifnya jauh lebih menarik dari batik lainnya, umumnya motif batiknya berasal dari Jetis. Biasanya gambaran dari motifnya sendiri adalah flora dan fauna dengan warna cerah dan terang. Seperti warna kuning, hijau dan juga merah. Beraneka ragam motif batik yang berasal dari Sidoarjo ini masih cukup kuno. Akan tetapi, tidak banyak perubahan dari motif terdahulu yang seringkali banyak dikenakan oleh pendahulu. Misalnya ijo – ijoan, abangan, motif krubutan serta burung merak. Motif Asli Jombang Kerajinan batik lain yang berasal dari Provinsi Jawa Timur adalah motif batik asli dari Jombang. Menurut informasi lengkapnya, motif tersebut masih tergolong baru dalam dunia perbatikan. Itu karena motif batik Jombang baru berkembang sekitar tahun 2000-an. Saat awal kemunculannya, motif batik yang berasal dari Jombang ini menggunakan motif tawangan serta kaning. Untuk penggunaan warna dasar kainnya adalah merah dan juga hijau, termasuk salah satu ciri khas dari daerah Jombang. Seperti itulah beberapa penjelasan secara lengkap dan detail, mengenai berbagai macam jenis motif batik Jawa Timur. Jika Anda menyukai motif yang lain seperti kain daerah Solo, Anda bisa membelinya di toko kain batik Solo. Dari beberapa motif tersebut, Anda bisa menjadikan kainnya sebagai bahan dasar membuat baju atau dress. ______________ Catatan Redaksi Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat 11 dan 12 Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email [email protected]. Terima kasih. Kunjungi juga kami di dan Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini JOMBANG – Ia adalah maestro batik Jombang. Seorang perintis batik Jombang yang terkenal dengan motif Candi Rimbi dan Ringin Contong. Maniati namanya. Dialah adalah orang pertama yang merintis batik khas Jombang, yang kini motifnya digunakan seluruh instansi baik negeri maupun swasta di Jombang. Bagi pegiat batik, namanya tidak asing lagi. Maniati lahir di Jombang 1935 silam. Ibu tujuh anak ini berasal dari Dusun Pelem, Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupeten Jombang. Sekilas tentang pendidikannya, ia mengawali masa kecil dengan bersekolah di Sekolah Guru Bantu SGB 1940-an selama kurang lebih 6 tahun. Kemudian, pernah mengenyam pendidikan di salah satu Sekolah Rakyat SR pada zaman penjajahan Jepang selama 4 tahun. Sejak kecil, Maniati mengaku suka menggambar. Dari beberapa mata pelajaran yang dia dapat di sekolah, dia paling suka dengan menggambar motif batik. Kemudian, selepas mengenyam pendidikan di SR dan SGB, ia pernah mengadi sebagai guru di sejumlah sekolah tingkat dasar. Pertama kali menjadi guru, Maniati mengabdi di SDN Kedungjati Kabuh. Beberapa tahun berikutnya, tempat mengajar Maniati berpindah pindah. Mulai di SDN Temuwulan Perak, SDN Tanggungan Gudo, SDN Godong Gudo dan SDN Jatipelem Diwek. Saking banyaknya sekolah, ia sampai tak ingat berapa jumlah sekolah tempat mengajar. Apalagi, minimnya guru kala itu membuat Maniati bekerja eksta mengajar di beberapa tempat, 2-3 sekolah setiap hari. Pengabdiannya sebagai guru dijalaninya kurang lebih 44 tahun. Kemudian, di tahun 1953, ia pertama kali memulai usaha batik. Kala itu, usahanya masih skala kecil dan mengajak beberapa orang di desanya bergabung belajar membatik. Usahanya sempat pasang surut karena dia sibuk mengajar. Tekat dia menggeluti usaha batik makin kuat, saatnjelang pensiun 1998-2000. Dia ingin fokus menggeluti usaha batik. Mulanya, batik tulis yang dihasilkan bermotif alam sekitar, seperti bunga, binatang dan budaya lokal. Misalnya batik Singo Wono, Peksi Hudroso dan batik motif lainnya. Seiring berjalannya waktu, usaha batik Maniati mulai dikenal di berbagai daerah. Dia bersama anak-anaknya, terutama anak ke-6, Ririn Asih Pindari sering mengikuti pameran batik di berbagai daerah. Dalam kesempatan itu, dia juga mengenalkan batik khas Jombang. Motif Candi Rimbi hingga Ringin Contong AWAL mula usaha batik di Desa Jatipelem, sebenarnya dia diundang Dinas Perindustrian Jombang bersama anaknya, Ririn Asih Pindari, untuk mengikuti beberapa kursus dan pelatihan membatik di Pemprov Jatim. Hasil dari pelatihannya itu diterapkan ke dalam usahanya hingga berkembang sampai sekarang. Di akhir 2000, Maniati meresmikan usaha batiknya dengan nama Sekar Jati Star. Kala itu, belum ada satupun rumah batik di tempat tinggalnyat. Bahkan, dia mengklaim, usaha batiknya muncul pertama di Jombang yang mampu mengembangkan usaha batik secara konsisten, serta memberdayakan warga setempat. Pada awal pemerintahan Bupati Suyanto, Maniati mendapat tawaran dari Pemkab Jombang untuk membuat motif batik khas Jombang. Dipilihlah saat itu motif candi Rimbi. Rencananya, motif dari batik tersebut digunakan seragam para pegawai di lingkup Pemkab Jombang. ”Pak bupati memberi gambar motif candi Rimbi ke saya. Lalu diminta untuk membuatkan motif batik,” ujarnya beberapa waktu lalu. Meski sempat ragu untuk membuatkan motif tersebut, namun berbekal tekat dan keuletan, dia mencoba membuat motif candir Rimbi. Agar hasilnya terlihat memiliki seni, dia menggunakan batik tulis. ”Saat itu pakai canting lalu saya buatkan,” kenangnya. Batik khas Jombangan ternyata cukup diminati setelah dirinya mengikuti pameran batik di Museum Batik Pekalongan. Beberapa pengunjung menilai motif batik Candi Rimbi asal Jombang yang dinilai mereka cukup menarik. Karena memadukan budaya lokal dengan ikon tempat bersejarah di Jombang. Hal itu tentu tidak dapat ditemui di daerah lain. ”Untuk hiasan yang ada di Batik Jombang memang saya buat sendiri. Selain untuk mengisi ruang yang kosong, hiasan ini untuk memperindah motif Candi Rimbi,” tandasnya. Lambat laun, batik Jombangan kian berkembang. Tepatnya, 2013 saat masa pemerintahan Bupati Nyono Suharli Wihandoko, ia bersama anaknya membuat desain baru perpaduan motif Candi Rimbi dengan motif Ringin Contong. ”Itu kami ajukan ke pak Nyono lalu diterima, saat itu dipakai seragam PKK,” pungkas dia. Batik Jombangan Go Internasional SELAIN pernah mengikuti berbagai macam pameran batik di Indonesia. Batik Jombangan buatan Maniati ternyata sudah Go internasional. Itu setelah, batik buatannya pernah diikutkan dalam sebuah pameran di Tokyo Jepang dan Yordania Timur Tengah. Maniati mengaku, yang menghadiri pameran di luar negeri bukan dirinya, melainkan anaknya Ririn Asih Pindari. Itu karena dia sudah tua sehingga secara fisik tidak mampu mengikuti kegiatan tersebut. ”Kalau saya sering mengikuti berbagai pameran di daerah undangan dinas atau Pemkab Jombang. Untuk pameran diluar negeri anak saya,” ujar perempuan usia 83 tersebut. Meski demikian, dia merasa sangat bangga. Karena hasil kreasi batik Jombang sudah dikenal di luar negeri. Batik Jombangan, lanjut ibu tujuh anak ini juga pernah diikutkan dalam Indonesia Fashion Week IFW 2015 di Jakarta Convention Centre Senayan. Kala itu, para pengunjung pemaran dibuat kagum dari hasil kreasi Batik Jombang. ”Itu juga yang mengenalkan anak saya,” tegasnya. Kini, karena keterbatasan usia, Maniati memilih istirahat dari dunia batik. Namun, usaha batiknya tetap berjalan dengan dikelola anak dan cucu. Bahkan, dia memberdayakan warga setempat untuk memproduksi batik cap maupun batik tulis. Selanjutnya, batik tersebut dipasarkan melalui rumah batik miliknya. ”Kalau produksi kadang disini, kadang di rumah mereka pekerja, Red masing-masing. Lalu mereka menyetorkan kesini,” papar dia. Selain itu, di rumah batiknya di Desa Jatipelem, juga sering dikunjungi siswa atau mahasiswa dari berbagai daerah untuk keperluan tugas sekolah maupun penelitian tentang Batik Jombang. Terakhir, digunakan mahasiswa Unesa untuk penelitan skripsi. ”Kalau SMK/SMA di Jombang setiap tahun selalu datang. Mereka ingin mengukuti pelatihan membatik,” paparnya lagi. Dia pun merasa senang dikunjungi siswa maupun mahasiswa. Karena menurutnya, batik adalah warisan budaya yang harus dijaga dan dikembangkan. ”Karena mereka adalah generasi bangsa. Sehingga kami sangat terbuka berbagi ilmu membatik kepada mereka,” pungkas Maniati. JOMBANG – Ia adalah maestro batik Jombang. Seorang perintis batik Jombang yang terkenal dengan motif Candi Rimbi dan Ringin Contong. Maniati namanya. Dialah adalah orang pertama yang merintis batik khas Jombang, yang kini motifnya digunakan seluruh instansi baik negeri maupun swasta di Jombang. Bagi pegiat batik, namanya tidak asing lagi. Maniati lahir di Jombang 1935 silam. Ibu tujuh anak ini berasal dari Dusun Pelem, Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupeten Jombang. Sekilas tentang pendidikannya, ia mengawali masa kecil dengan bersekolah di Sekolah Guru Bantu SGB 1940-an selama kurang lebih 6 tahun. Kemudian, pernah mengenyam pendidikan di salah satu Sekolah Rakyat SR pada zaman penjajahan Jepang selama 4 tahun. Sejak kecil, Maniati mengaku suka menggambar. Dari beberapa mata pelajaran yang dia dapat di sekolah, dia paling suka dengan menggambar motif batik. Kemudian, selepas mengenyam pendidikan di SR dan SGB, ia pernah mengadi sebagai guru di sejumlah sekolah tingkat dasar. Pertama kali menjadi guru, Maniati mengabdi di SDN Kedungjati Kabuh. Beberapa tahun berikutnya, tempat mengajar Maniati berpindah pindah. Mulai di SDN Temuwulan Perak, SDN Tanggungan Gudo, SDN Godong Gudo dan SDN Jatipelem Diwek. Saking banyaknya sekolah, ia sampai tak ingat berapa jumlah sekolah tempat mengajar. Apalagi, minimnya guru kala itu membuat Maniati bekerja eksta mengajar di beberapa tempat, 2-3 sekolah setiap hari. Pengabdiannya sebagai guru dijalaninya kurang lebih 44 tahun. Kemudian, di tahun 1953, ia pertama kali memulai usaha batik. Kala itu, usahanya masih skala kecil dan mengajak beberapa orang di desanya bergabung belajar membatik. Usahanya sempat pasang surut karena dia sibuk mengajar. Tekat dia menggeluti usaha batik makin kuat, saatnjelang pensiun 1998-2000. Dia ingin fokus menggeluti usaha batik. Mulanya, batik tulis yang dihasilkan bermotif alam sekitar, seperti bunga, binatang dan budaya lokal. Misalnya batik Singo Wono, Peksi Hudroso dan batik motif lainnya. Seiring berjalannya waktu, usaha batik Maniati mulai dikenal di berbagai daerah. Dia bersama anak-anaknya, terutama anak ke-6, Ririn Asih Pindari sering mengikuti pameran batik di berbagai daerah. Dalam kesempatan itu, dia juga mengenalkan batik khas Jombang. Motif Candi Rimbi hingga Ringin Contong AWAL mula usaha batik di Desa Jatipelem, sebenarnya dia diundang Dinas Perindustrian Jombang bersama anaknya, Ririn Asih Pindari, untuk mengikuti beberapa kursus dan pelatihan membatik di Pemprov Jatim. Hasil dari pelatihannya itu diterapkan ke dalam usahanya hingga berkembang sampai sekarang. Di akhir 2000, Maniati meresmikan usaha batiknya dengan nama Sekar Jati Star. Kala itu, belum ada satupun rumah batik di tempat tinggalnyat. Bahkan, dia mengklaim, usaha batiknya muncul pertama di Jombang yang mampu mengembangkan usaha batik secara konsisten, serta memberdayakan warga setempat. Pada awal pemerintahan Bupati Suyanto, Maniati mendapat tawaran dari Pemkab Jombang untuk membuat motif batik khas Jombang. Dipilihlah saat itu motif candi Rimbi. Rencananya, motif dari batik tersebut digunakan seragam para pegawai di lingkup Pemkab Jombang. ”Pak bupati memberi gambar motif candi Rimbi ke saya. Lalu diminta untuk membuatkan motif batik,” ujarnya beberapa waktu lalu. Meski sempat ragu untuk membuatkan motif tersebut, namun berbekal tekat dan keuletan, dia mencoba membuat motif candir Rimbi. Agar hasilnya terlihat memiliki seni, dia menggunakan batik tulis. ”Saat itu pakai canting lalu saya buatkan,” kenangnya. Batik khas Jombangan ternyata cukup diminati setelah dirinya mengikuti pameran batik di Museum Batik Pekalongan. Beberapa pengunjung menilai motif batik Candi Rimbi asal Jombang yang dinilai mereka cukup menarik. Karena memadukan budaya lokal dengan ikon tempat bersejarah di Jombang. Hal itu tentu tidak dapat ditemui di daerah lain. ”Untuk hiasan yang ada di Batik Jombang memang saya buat sendiri. Selain untuk mengisi ruang yang kosong, hiasan ini untuk memperindah motif Candi Rimbi,” tandasnya. Lambat laun, batik Jombangan kian berkembang. Tepatnya, 2013 saat masa pemerintahan Bupati Nyono Suharli Wihandoko, ia bersama anaknya membuat desain baru perpaduan motif Candi Rimbi dengan motif Ringin Contong. ”Itu kami ajukan ke pak Nyono lalu diterima, saat itu dipakai seragam PKK,” pungkas dia. Batik Jombangan Go Internasional SELAIN pernah mengikuti berbagai macam pameran batik di Indonesia. Batik Jombangan buatan Maniati ternyata sudah Go internasional. Itu setelah, batik buatannya pernah diikutkan dalam sebuah pameran di Tokyo Jepang dan Yordania Timur Tengah. Maniati mengaku, yang menghadiri pameran di luar negeri bukan dirinya, melainkan anaknya Ririn Asih Pindari. Itu karena dia sudah tua sehingga secara fisik tidak mampu mengikuti kegiatan tersebut. ”Kalau saya sering mengikuti berbagai pameran di daerah undangan dinas atau Pemkab Jombang. Untuk pameran diluar negeri anak saya,” ujar perempuan usia 83 tersebut. Meski demikian, dia merasa sangat bangga. Karena hasil kreasi batik Jombang sudah dikenal di luar negeri. Batik Jombangan, lanjut ibu tujuh anak ini juga pernah diikutkan dalam Indonesia Fashion Week IFW 2015 di Jakarta Convention Centre Senayan. Kala itu, para pengunjung pemaran dibuat kagum dari hasil kreasi Batik Jombang. ”Itu juga yang mengenalkan anak saya,” tegasnya. Kini, karena keterbatasan usia, Maniati memilih istirahat dari dunia batik. Namun, usaha batiknya tetap berjalan dengan dikelola anak dan cucu. Bahkan, dia memberdayakan warga setempat untuk memproduksi batik cap maupun batik tulis. Selanjutnya, batik tersebut dipasarkan melalui rumah batik miliknya. ”Kalau produksi kadang disini, kadang di rumah mereka pekerja, Red masing-masing. Lalu mereka menyetorkan kesini,” papar dia. Selain itu, di rumah batiknya di Desa Jatipelem, juga sering dikunjungi siswa atau mahasiswa dari berbagai daerah untuk keperluan tugas sekolah maupun penelitian tentang Batik Jombang. Terakhir, digunakan mahasiswa Unesa untuk penelitan skripsi. ”Kalau SMK/SMA di Jombang setiap tahun selalu datang. Mereka ingin mengukuti pelatihan membatik,” paparnya lagi. Dia pun merasa senang dikunjungi siswa maupun mahasiswa. Karena menurutnya, batik adalah warisan budaya yang harus dijaga dan dikembangkan. ”Karena mereka adalah generasi bangsa. Sehingga kami sangat terbuka berbagi ilmu membatik kepada mereka,” pungkas Maniati.

gambar motif batik jombang